Kesan pertama saya, Kindle yang baru ini ukurannya pas banget buat dipegang. Sangat ringan sehingga tidak akan bikin tangan cepat lelah kalau dipakai untuk membaca dalam waktu yang cukup lama.
Layarnya canggih. Waktu pertama kali dibuka, saya kira ada semacam sticker yang menempel pada layarnya. Tapi itu bukan sticker, melainkan tulisan yang dihasilkan oleh layarnya! Jadi dalam keadaan non-aktif, layar Kindle tetap 'menyala'.
Menyambungkan Kindle ini ke jaringan wi-fi sangatlah mudah, sangat mulus. Namun sepertinya daya tangkap sinyal wi-fi agak lemah sehingga saya tidak bisa berada terlalu jauh dari modem wifi.
Registrasi piranti Kindle dan sign-in ke toko Kindle Amazon tidak perlu dilakukan lagi, karena ternyata Amazon telah melakukannya untuk saya. Iya, semuanya telah di-set dengan akun Amazon saya.
Dokumen 'Getting started', welcome note, dan 2 kamus bahasa Inggris Oxford sudah tersedia. Saya hanya perlu mengunduh beberapa e-book yang sudah pernah saya beli dari Kindle Store via iPhone dan mengaturnya kembali di piranti Kindle tersebut.
Saat ini, saya masih mempelajari manualnya. Tapi overall, saya cukup terkesan dengan fisik dan fitur-fiturnya, terutama layarnya.
Sebelumnya ada aplikasi PicPosterous yang beberapa kali saya gunakan, namun fiturnya sangat terbatas dan lebih fokus pada sharing foto dan vidio.
Dan posting ini adalah yang pertama saya buat melalui aplikasi Posterous for iPhone.
Informasi yang sangat bermanfaat di minggu pagi yang mendung ini. Tadinya saya tak terlalu peduli dengan terminologi yang ada. Saya lebih peduli pada substansi.
Tapi, artikel ini telah membuka mata hati saya.
Lebay.
Jas kiding.
The clock is ticking. Every second, it seems, someone in the world takes on more debt. The idea of a debt clock for an individual nation is familiar to anyone who has been to Times Square in New York, where the American public shortfall is revealed. Our clock shows the global figure for all (or almost all) government debts in dollar terms.
Mau tahu berapa hutang negara-negara di dunia, termasuk Indonesia? Sila mainkan peta interaktif ini.
Namanya Trace Bundy. Dia memainkan salah satu lagu monumental karya grup musik legendaris musik rock, Guns N' Roses, Sweet Child O' Mine.
Yang unik adalah dia 'membuat' musiknya di atas panggung. Awalnya dia membuat pola-pola ritmenya, kemudian memasukkan unsur perkusi, lalu menjadikannya loop untuk musik pengiring saat dia memainkan melodi lagu tersebut dari awal hingga akhir. Cool!
Rasa ingin tahu anak-anak memang besar. Tak terkecuali si Luna yang baru menginjak usia 2 tahun sebulan yang lalu. Maka, iPod Touch yang baru saya beli pun jadi objek keingintahuannya. Sekarang dia sudah terampil sekali memainkan jari-jari mungilnya di atas layar sentuh.
Saya lalu mengunduh beberapa game anak-anak yang kira-kira bisa dimengerti oleh dia. Ternyata banyak game yang menurut saya cukup mendidik buat anak seusia Luna. Salah satunya adalah Tozzle, sebuah game puzzle yang cukup keren.
Awalnya saya tak berharap Luna bisa memainkan game ini dengan benar. Tapi ternyata hanya selang 3 hari sejak saya mengunduh game tersebut, Luna sudah sangat menguasai game ini. Saya hanya bisa terbengong-bengong ketika dia memamerkan ketangkasannya dalam mencocokkan gambar-gambar ke dalam beberapa puzzle yang tersedia.
Tak rugi deh beli iPod Touch. Hehehe...
All a user needs to do is place their phone in a Qi-enabled sleeve and onto the charger, in this case a mat, and the device will begin charging. Its coverage is limited to the iPhone and Blackberry Curve 8900 for the time being. Look for this to be widely available in November. Pricing starts at $89.
Sebentar lagi mungkin kita tak perlu membawa charger untuk handphone, laptop serta peralatan elektronik lainnya yang membutuhkan pengisian daya ulang. Generasi pertama teknologi pengisian daya nirkabel telah diperkenalkan minggu ini.